Sudahkah kita Memutus Mata Rantai Bullying?

Sebuah pesan di  whatshapp grup terlihat memberikan notifikasi pada layar smartphone ku sesaat setelah dipegang oleh anak ku, tak kuhiraukan karena sedang sibuk membantu anak yang bungsu belajar karena besok jadwalnya UTS.



Setelah membantu anak-anak mengulang kembali materi pelajaran akhirnya aku kembali mengambil smartphone dan membuka percakapan di beberapa grup WhatsApp. Ada beberapa pesan yang belum terbaca. Pandanganku tertahan pada sebuah percakapan di salah satu grup WhatsApp walimurid di smartphone dan mulai mengikuti arah pembicaraan tersebut.


Setelah bolak balik scroll didapat sebuah pesat terkirim yang ditulis dari nomorku, aku segera mengingat ingat siapa yang menulis pesan tersebut, ternyata salah satu anakku menanyakan jadwal pelajarannya di grup dengan bahasa dia, dan aku tahu bahwa ia serius menanyakan jadwal pelajaran tersebut.

Yang cukup membuat aku terkejut pertanyaan 'polos' dari anakku itu direspon oleh beberapa orang tua dengan tidak wajar. Mungkin niatnya bercanda tapi terlanjur terbaca oleh anakku, dan sudah bisa ditebak akhirnya dia merasa sangat bersalah telah mengirim pesan tersebut dan menangis.

Baiklah... Sampai disini aku berusaha menenangkannya dengan memberikan nasihat untuk menguatkan hatinya, setelah agak lama barulah ia sedikit tenang dan mau melanjutkan aktivitasnya kembali.

Yah, aku termenung sambil beberapa kali membaca  pesan bernada 'bully' tersebut lalu memutuskan untuk menghapus saja pesan tersebut sehingga tidak menimbulkan luka di hati anakku saat membaca kembali pesan tersebut.

Jauh di relung hati yang paling dalam ada rasa sedih dengan fenomena bully ini. Bully bukan hanya ada di kalangan anak-anak sekolah setingkat SD, SMP atau SMA saja, namun juga dengan caranya sendiri juga menjalar ke perkumpulan orang tua entah di grup-grup WhatsApp maupun di kehidupan nyata, bahkan nyata-nyata orang tua yang membuli anak anak yang merupakan teman anaknya baik disadari maupun tidak.

Kembali ke persoalan pesan di wa grup di atas, sebenarnya orang yang sangat berperan penting dalam mengcounter bully adalah admin, dengan cara menegur Anggota yang sudah dianggap tidak mengindahkan aturan grup atau melakukan pembulian baik dengan cara halus maupun terang-terangan.

Ketahuilah wahai ayah bunda, saat kita melakukan pembulian artinya kita sudah melakukan perampasan hak anak untuk berpikir kreatif, dan kritis serta menanamkan kebanggaan membully pada diri sendiri dan anak yang melihat apa yang kita lakukan sehingga dia akan melakukan hal yang sama dengan teman-teman mereka di sekolah maupun di mana mereka bermain.

Jadi marilah kita hentikan keinginan membully agar mata rantai bully tak tersambung sampai anak cucu kita.
Salam.

No comments

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.