Ada Asa dari Anak Desa di Pohon Sawit

Sebut saja namaku Marni, seorang gadis yang mencoba menuntut ilmu di kota. Asalku dari ujung sebuah desa di salah satu kecamatan kecil di Pulau Sumatera. Letak desa kami berada di kabupaten pemekaran sehingga untuk menjangkau ibukota provinsi perlu waktu 6-7 jam.



Mayoritas mata pencaharian orang orang di desaku adalah petani. Tepatnya petani sawit. Petak-petak tanah sudah penuh sesak dengan tanaman sawit. Kami sangat bergantung dengan buah sawit.

Bila tiba masa panen orang tua kami akan memanen sawit menggunakan tongkat bambu yang diujungnya dipasangkan mata pisau yang sangat tajam. Mata pisau itu akan merontokkan buah tandan sawit.

Kami sebagian anak-anak akan ikut mengumpulkan buah-buah sawit yang berserakan di bawah pohon lalu mengumpulkannya ke dalam keranjang dan akan ikut di jual ke pengepul sawit yang tiap panen akan datang ke kebun kami.

Tandan sawit yang masih segar itu akan di timbang pengepul lalu dicatat di buku catatan. Bapak akan mendapatkan sejumlah uang tergantung berapa banyak hasil panen saat itu. Begitu juga dengan buah sawit-sawit yang kami kumpulkan tadi ikut ditimbang dan di hargai dengan sejumlah uang.

Bapak lalu membawa uang hasil panen tersebut untuk diberikan kepada ibu. Ibu lalu membagi bagikan uang tersebut agar bisa memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Sebagian kecil untuk membeli beras, membayar listrik, membeli sayur dan jajan aku dan adikku. Setiap kali mendapatkan uang hasil panen sawit ibu selalu menyisihkan sebagian kecil uang tersebut untuk di simpan di dalam buku tabungan kata ibu supaya aku bisa bersekolah tinggi dan untuk berjaga jaga jika ada salah satu anggota keluarga kami mengalami musibah seperti sakit, sehingga uang tersebut tidak habis.

Namun ibu sering mengeluh karena saat ini biaya kebutuhan sehari-harinya semakin besar. Aku memperhatikan ibu selalu mengeluh saat pulang dari pasar Rabu, yaitu pasar tempat kami berbelanja setiap pekan. Kata ibu semua harga naik tak terkendali sehingga ibu terpaksa membeli yang penting penting saja, lauk pauk diganti dengan tahu dan tempe serta ikan asin saja agar mencukupi kebutuhan kami sehari-hari sampai panen berikutnya.



Yah, kehidupan kami sangat tergantung dengan  sawit. Tiap tiga bulan Bapak juga harus membeli pupuk untuk sawit agar tidak berhenti berbuah, kata bapak sawit yang di pupuk akan menghasilkan buah yang besar sehingga diharapkan panen juga melimpah.

Tak jauh dari desa kami, kira-kira berjarak 7 km terdapat pabrik sawit yang menjadi tumpuan para petani sawit. Pabrik sawit itulah yang akan mengolah sawit-sawit dari hasil kebun petani seperti bapak menjadi minyak mentah yang selanjutnya akan diolah menjadi berbagai macam kebutuhan seperti minyak goreng, sabun, dll.

Banyak juga dari desa kami yang bekerja di pabrik sawit bahkan pamanku juga bekerja di sana. Pabrik pengolahan sawit tersebut juga rutin memberikan penyuluhan untuk para petani sawit tentang teknik pertanian sawit agar terus menghasilkan buah yang banyak.

Aku berharap banyak kepada perusahaan sawit agar terus beroperasi sehingga kami anak para petani sawit bisa bersekolah yang tinggi sampai tercapai cita-cita kami.

Sawit kuat Indonesia hebat 


1 comment

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.