Bijak Menghadapi Emosi Anak

[parenting]



Kecerdasan emosional anak penting dikelola dengan baik untuk kesuksesan masa depannya. Anak yang kecerdasan emosionalnya berkembang dengan baik memiliki sifat-sifat baik seperti kooperatif, ramah, optimis serta dapat memecahkan masalah yang ditemuinya.

Untuk membentuk anak dengan kecerdasan emosional baik perlu adanya kerjasama antara orang tua dan orang-orang di sekeliling anak secara kontinu. Bagaimanakah cara bijak menghadapi emosi anak?

Sebagai Ibu pernah kesal dong ya ketika anak merengek minta dibelikan sesuatu namun saat itu sedang tidak tepat untuk membelikannya. Entah karena tidak punya uang, mainan yang diminta sudah ada atau kita merasa tidak terlalu penting untuknya. Apa sih yang dilakukan orang tua ketika menghadapi anak yang tiba-tiba tidak bisa mengendalikan emosinya?

Kondisi anak yang tidak dituruti keinginannya ini sering memancing emosi orang tua, apalagi kalau di tempat umum. Orang tua akan merasa malu, kehilangan harga diri. Apalagi jika anak sulit untuk diajak kooperatif. Bisa-bisa anak menjadi lampiasan emosi orang tua. 

Memang anak untuk usia balita kadang sulit menebak emosinya, mungkin di rumah kita sudah berpesan untuk tidak bertingkah yang aneh-aneh eh ternyata pada kenyataaannya dia tetap saja memancing emosi.

Dalam  parenting untuk menghadapi emosi anak balita ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain:

Menamai Emosi

Anak usia balita belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakannya. Saat ia kesal maka ia melampiaskan dengan menangis kencang, saat ia tidak nyaman akan menangis, begitu juga saat ia marah ia akan menangis. Beberapa anak justru mengungkapkan keinginannya dengan cara menangis untuk memancing orang dewasa peduli terhadapnya. 

Untuk itu ketika anak sedang marah, kesal sebaiknya kita mengatakan:

“Kamu marah, Ya? “

“adek kesal, Ya?”

“Bagus, Bunda senang jika kamu dapat melakukannya”

“Sesak ya dada Adek?”

Situasi dimana anak merasakan kemarahannya, jika ada yang bisa menamakannya maka ia akan mencoba mengangguk mengiyakan, atau paling tidak kita adalah orang yang mengerti bahwa dia sedang marah. 

Menatap wajahnya dengan posisi sama tinggi

Ketika anak sedang marah dan duduk di lantai, maka sebaiknya kita juga mencoba menyamakan posisi dengannya, suatu kondisi yang akan membuatnya tidak merasa direndahkan akan meredakan emosinya secara perlahan. 

Tatap wajahnya dengan sungguh-sungguh bukan dengan wajah garang penuh kebencian. Di sini kita akan berperan sebagai orang yang bisa diajak bicara sehingga dia percaya untuk mengungkapkan perasaannya.

Mengajak Anak bicara tentang perasaan mereka

Ketika mendapati anak yang sedang kesal, maka ajaklah anak bicara tentang perasaan mereka. Pada saat seperti ini kita boleh menanyakan tentang emosinya.

Adik, kenapa marah?”

Bila anak sudah mau diajak bicara maka selanjutnya kita tinggal menjadi pendengar yang aktif. 

Mendengar aktif

Sebagai orang tua ketika menemui anak yang sedang emosi sebaiknya kita menjadi pendengar yang aktif, biarkan dia menyelesaikan emosinya dengan caranya. Misalnya ketika anak sedang marah kita menjadi pendengar yang aktif janganlah sesekali menyela pembicaraanya, biarkan ia bercerita dan bergumam dengan caranya sendiri. 

Beri tempo untuk mulai berbicara. Saat yang paling tepat adalah ketika dia berhasil menyelesaikan emosinya maka saat itulah kita mulai berbicara. 

artikel terkait : Mengisi waktu bermain anak 

Membaca bahasa tubuh

Apabila anak menolak melakukan sesuatu yang kita perintah maka kita mesti pahami bahwa itu adalah bentuk penolakannya, janganlah memaksakan pendapat kita.

"Adik enggak suka, Ya?"

Apabila emosi anak sudah reda maka sebaiknya kita memberi pemahaman kepada mereka tentang pentingnya memahami perasaan orang lain:

Berikan pemahaman tentang perasaan orang lain

Apabila kita sedang berjalan ke suatu tempat lalu menemukan ada yang sedang menangis karena sesuatu hal maka sebaiknya kita memahamkan bagaimana mengerti perasaan orang lain. 

“Eh, kasihan sekali ya Adik yang berkepang dua itu, mungkin dia sedang kesal karena orang tuanya tidak punya uang membelikan mainan. Kasihan ya de orang tuanya”

“Gak enak ya de, kalau adek digituin”

Dialog seperti itu akan memunculkan tanggapan dari anak tentang apakah ia sepakat dengan perasaan yang kita lontarkan, jika tidak tunggu saja kalimat dari nya. Bisa saja ia setuju atau tidak setuju dengan pendapat kita. Saat itulah adalah masa yang tepat memberikannya pemahaman bagaimana memahami perasaan orang lain.

Mengajarinya mengendalikan emosinya

Nanti kalau adek marah adek boleh kok mengepalkan tangan adek. Lalu adek tarik nafas dalam-dalam melalui hidung, perlahan keluarkan lewat mulut. Pasti akan lebih ringan rasanya. 

Saran seperti itu bisa saja ia lakukan dengan baik saat sedang marah maupun kesal. Artinya tidak harus dengan berguling-guling di lantai atau menangis kencang. 


Memutuskan tindakan dengan kesepakatan

Saat anak sedang dalam kondisi tenang sebaiknya kita memberikan kesepakatan dengannya tentang apa yang harus ia terima apabila tidak bisa mengendalikan emosinya, misalnya tidak mendapatkan mainan impiannya saat ia tidak bisa mengendalikan emosinya, atau hukuman lainnya yang terlebih dahulu telah disepakati. 

Tindakan ini adalah salah satu bentuk kekonsistenan kita terhadap apa yang telah kita terapkan. Sehingga ia tidak akan main-main dengan keputusan yang telah kita ambil.

inilah beberapa tips bijak menghadapi emosi anak yang dapat Bunda terapkan, semoga kita dapat meningkatkan kecerdasan emosional anak dengan mampu mengendalikan emosinya. Ingatlah Bunda, saat ini banyak orang yang pintar secara akademik, namun kurang mampu mengendalikan emosi dengan baik, kemungkinan penyebabnya adalah ketidaktahuan orang tua tentang pentingnya menjaga emosi anak dengan baik. 


5 comments

  1. Kalau umur segitu kita harus jelih dalam menasehati anak, karena itu adalah masa emasny. Kunbal ya

    ReplyDelete
  2. trima kasih mbak, bermanfaat sekali 😊

    ReplyDelete
  3. Trima kasih mbak, brmanfaat sekali 😊

    ReplyDelete
  4. Aku blm punya anak jd aku blm bisa rasakan sesyngguhnya bagaimana menghadaoi emosi anak.... Sejauh ini kalau ada ponakan atau anak kecil rewel aku masih sabar2 aja hehhee


    Tp aku mengamati.. Anak yg orang tuanya suka teriak suka marah anaknya juga begitu.... Apa krn anak meniru ortunya ya

    ReplyDelete
  5. Bener banget mba, thanks tips nya pasti berguna kelak untuk aku dan anak ku.. setidaknya kita bukan bos buat anak tapi orang tuan yang baik sekaligus teman

    ReplyDelete

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.