Mengenal Perkembangan Emosi dan Sosial Anak Balita

[parenting]



Setiap tahapan perkembangan anak selalu unik dan menarik. Karena keunikan inilah kita sebagai orang tua mesti mengetahui tiap tahapan tersebut agar bisa menyesuaikan dengan pola pengasuhan yang kita terapkan pada anak.

Anak yang mendapatkan pola pengasuhan yang tepat sesuai dengan perkembangannya akan tumbuh menjadi anak yang mandiri serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan nya. Seringkali kita mendengar anak A dan anak B berbeda keunikannya, misalnya di usia 5 tahun si A sudah bisa mencuci tangan sendiri ketika habis ke kamar mandi, serta mau berbagi mainan sesama temannya, sementara anak B masih harus jejeritan ketika ada teman yang berusaha mengambil mainannya.

Beberapa perbedaan ini kadang membuat anak terlihat lebih dewasa dibanding anak lain seusianya. Tentu bukan perkara keturunan atau faktor genetik yang menyebabkan anak terkesan 'lebih dewasa' melainkan pola didikan orang tua dan lingkungan sekitarnya lah yang dapat menjadikan anak menjadi lebih baik emosinya. 


Sebenarnya orang tua wajib mengetahui standar perkembangan emosi dan perkembangan sosial setiap anak agar dapat menyesuaikan dengan pola seperti apa yang bisa diterapkan di rumah. Standar ini mengacu pada usia anak.

artikel terkait : Isi Waktu bermain Anak

Bermain Bersama

Anak usia 2-5 tahun memiliki perkembangan emosi dengan ditandai dengan bermain dengan teman sepermainannya dengan atau tanpa pendamping. Apabila respon orang tua positif terhadap apa yang dilakukan oleh anak maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berpotensi mengembangkan imajinasinya dengan baik. Sebaliknya jika respon lingkungannya tidak baik anak menjadi takut bermain, dengan sendirinya perkembangan emosi anak ke depannya akan menjadi anak yang penakut dalam mencoba sesuatu. 

Pada tahap ini orang tua sangat penting dalam membentuk lingkungan yang positif terhadap imajinasinya, misalnya ketika anak mulai berinisiatif mengajak temannya bermain, orang tua perlu juga memberikan penguatan seperti :

"Wah, Anak Pintar ayo pegang tangan temannya!"

Penguatan seperti itu meruapkan bentuk respon positif orang tua mempersilahkan anak untuk berteman dengan siapapun.

Menjadi Pemimpin

Pada usia ini anak sudah bisa menjadi pemimpin bagi teman-temannya. Bentuk dukungan orang tua bisa dengan memberikan apresiasi senang.

"Bunda sangat bahagia lho jika Adek bisa bergantian menjadi yang di depan."

Respon seperti ini adalah memberikan kesempatan kepada Anak untuk tidak 'selalu' mendominasi dalam sebuah permainan. Ketika Anak mampu menjadi pemimpin bagi teman-temannya dalam sebuah permainan lalu kita sebagai orang tua membiarkan tanpa mengarahkan, maka Anak akan menjadi 'egois' karena menganggap dirinya selalu menjadi yang terdepan.

Jadi ketika dalam sebuah permainan terbuka peluang untuk Anak yang lain bergantian memimpin maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menerima orang lain memimpinnya. 


Berimajinasi 

Pada usia ini anak memiliki imajinasi yang tinggi dan kadang tidak sempat terpikirkan oleh orang dewasa. Sebagai orang tua, sebaiknya memberikan respon positif jika Anak mulai berimajinasi dengan berbagai permainannya. 

Misalnya ketika anak mulai menggunting kertas, lalu karena bosan dia mulai bekreasi dan berimajinasi dengan menggunting benda lain, maka sebaiknya orang tua juga mengarahkannya. Kemungkinan ketika Anak mengalihkan permainannya dia hanya membutuhkan perhatian dari kita. Jangan terburu-buru memarahinya apabila ia terlanjur menggunting sesuatu yang tidak diperbolehkan. 

"Wah, anak Bunda sudah pandai menggunting kain ya, Mau enggak Bunda ajari membuat baju boneka?"


Tawaran membuat baju boneka tentu akan sangat menarik baginya dibanding hanya sekedar menggunting kain. Bila anak sudah memperhatikan, maka kita bisa mengalihkan permainan dengan menggunting kain perca yang sudah dipersiapkan, sambil mengingatkannya:

"Nah, kalau adik mau membuat baju boneka, Gunakan kain yang ini ya! pasti akan menjadi baju yang cantik deh." 

permainan sederhana di rumah

Bandingkan jika kita langsung memarahi anak tanpa memberikan solusi, selain anak kehilangan imajinasi yang sudah ada dibenaknya, ia juga tidak mempercayai kita lagi akibat larangan tersebut yang mengganggu keasyikannya bermain. 

Dampaknya anak bisa saja kehilangan percaya diri nya dan tidak bisa mengembangkan imajinasi dengan baik. 

14 comments

  1. setuju mba memang ortu harus pandai mengarahkan dan juga menstimulasinya, kadang juga aku kehabisan ide ketika anakku uda mulai bosan satu rutinitas maka pandai2lah kita sbg ortu biar anak bisa terus berimajinasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mba herva kereeen kita yang harus kreatif ya sebagai ortu

      Delete
  2. mengenal emosi penting ya karena nanti kita juga tau potensi anak, biar bisa berprestasi

    ReplyDelete
  3. Bentakan, cacian, meski tujuannya baik tp efeknya kurang baik. Memgikis kepercayaan anak yaa mbaa

    ReplyDelete
  4. Bentakan, cacian, meski tujuannya baik tp efeknya kurang baik. Memgikis kepercayaan anak yaa mbaa

    ReplyDelete
  5. Anak jangan sering dimarahi ya Mba.. Ntar mentalnya jadi down kalo suka dimarahi..

    ReplyDelete
  6. Intinya ortu hrs sabaar mendampingi anak2 tumbuh ya, kalo ngga, yg ada bawaannya marah2 liat.tingkah polah anak, lalu anak jd terbatasi proses belajarnya. Tfs maak

    ReplyDelete
  7. Tips yang kece banget mba. Pas nih tipsnya buat aku yg punya toddler 4 tahun

    ReplyDelete
  8. Pemahaman saya jadi bertambah setelah baca ini, makasih bunda atas pencerahannya

    ReplyDelete
  9. Permainannya sederhana tapi manfaatnya banyak banget untuk melihat perkembangan emosi si anak ya mbak. Bagus banget artikelnya mba

    ReplyDelete
  10. Thanks mbak, kebetulan si sulung di rumah emang lagi usianya senang bermain nih..

    ReplyDelete

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.