Untukku, Salma dan Pasangan Muda Lainnya



Melihat berita yang sedang viral baik di tv maupun di media sosial, rasanya hatiku cukup terenyuh untuk menulis tentang hal ini. Diam-diam aku juga mengikuti perkembangan kasus ini karena sangat banyak dibahas di timeline media sosial maupun di entertaiment

Bukan bermaksud mau menceburkan diri ke dalam perputaran gosip dan perang pendapat tapi lebih kepada rasa karena sama-sama wanita kali ya.

Aku cukup terenyuh melihat tayangan ketika Ayah Salma sang pengacara kondang memeluk erat anaknya yang sedang menangis ketika sesaat mendengar pernyataan pihak keluarga Taqi suaminya.

Posisi Salma

Sebagai seorang wanita sama-sama pernah menikah muda apa yang dirasakan oleh Salma sangatlah menyayat hati. 2 minggu masa taaruf, lalu menikah 4 hari kemudian berpisah karena sang suami menuntut ilmu di negeri lain. 

Aku sudah bisa membayangkan bagaimana berada di posisi Salma. Lah dulu aja aku mengalami tapi berbeda kondisinya, habis akad nikah naik ke pelaminan jam 12 siang saat masih ada tamu suami pamit karena harus melanjutkan acara pelatihan wajib yang telah diikutinya sejak 5 hari sebelumnya. Kalau tidak dihadiri akan diulang tahun depan.  Posisinya hanya izin untuk menikah salah satu izin yang diperbolehkan dalam pelatihan tersebut. 

2 hari di tinggal rasanya campur aduk, berbagai pertanyaan menggelayut di benakku, apakah suamiku benar-benar mencintaiku? Apakah dia tidak memikirkan perasaanku dan keluarga? Kok dia tidak mau berkorban untukku? 

Dan berbagai pertanyaan-pertanyaan lain yang silih berganti berkelebat di benakku. Belum lagi bisik-bisik tetangga yang entah dari mana membicarakan tentang kami, semua itu adalah pemicu dari ledakan-ledakan emosi yang bisa saja tiba-tiba meledak. 

2 hari terasa sangat lama, waktu terasa melambat dan kesedihan mulai menyeruak ke dalam sanubari. Alih-alih bersosialisasi yang ada hanyalah godaan-godaan dari mereka  yang tak bertanggung jawab yang mungkin saja maksudnya adalah bercanda tapi itu adalah sangat menyakitkan.

Untung saja badai itu segera berlalu, saat suami menyelesaikan tugasnya, ketika dia sampai di depan pintu rumah tak bisa lagi berkata-kata hanya hamburan tangisan di dalam pelukan eratnya saja. Rasanya waktu itu aku tak akan melepaskan lagi pelukanku. 

Kami menangis haru ternyata apa yang aku rasakan juga dia rasakan, kami sama-sama menahan rindu yang teramat dalam selama 2 hari itu. 


Ya, apa yang dirasakan Salma sebetulnya  adalah puncak dari kerinduan yang tersimpan di sanubarinya. Salma hanya membutuhkan pelukan. Iya pelukan, dari siapa? Tentu dari suaminya. Apa yang dirasakan oleh Salma adalah bentuk protes nya bahwa sebetulnya dia masih mencintai Taqy. Hanya saja Dia belum sepenuhnya mengerti bahwa apa yang ia ucapkan itu dianggap serius oleh Taqy, Ia sebetulnya memiliki kerinduan yang tidak bisa diungkapkan. Toh anak seumuran Salma masih suka berantem dalam membina hubungan. 

Taqy, temui dan peluklah Salma

Karena pelukan dari seseorang yang kita kasihi dan cintai itu sangat menentramkan. Akan pulih segala kecewa, marah dan ego dengan pelukan. 

Sebagai Ayah, Apa yang dilakukan oleh Sunan sudah sangat tepat, ia melindungi anaknya yang saat itu dipandang geram oleh banyak orang. Bayangkan hampir semua jagad netizen menyalahkan Salma, karena kecerobohan dan sikap tidak patuhnya pada suami. Bukankah hal itu adalah sebuah pukulan yang harus diterima oleh Salma, kepada siapa ia akan menangis dan berbagi beban tentu kepada orang tuanyalah dalam hal ini adalah ayahnya. 

Ya, Salma mungkin bisa saja salah dan meledak-ledak namun jika Taqy memang benar telah dewasa dan serius membina rumah tangga selayaknya memang harus sekuat tenaga memperjuangkan cinta nya. Sayangnya terlalu banyak yang merasakah bahwa mereka tidak memiliki kecocokan, dan parahnya mereka mendengar dan memperturutkannya. 

Salma cuma butuh pelukan 

Emosi, marah dan segenap rasa kecewa sebetulnya adalah cara untuk mempertanyakan kesungguhan cinta dari pasangan. Namun entah kenapa berhari-hari marah dan emosi akan lenyap seketika dengan pelukan dari suami. 

Aku bahkan pernah terheran-heran capek-capek marah dan emosi eh saat dipeluk seketika hilang lenyap tak berbekas, berganti lagi dengan cinta. 

Jadi, 

Kepada Taqy dan Salma coba deh kalian bertemu, Taqy peluklah Salma, semudah itu kok, iya sangat mudah itu saja yang dia butuhkan tidak yang lain. Karena jauh di lubuk hati Salma masih ada harapan untuk masa depan kalian berdua.

Cobalah untuk tidak mendengar terlebih dahulu sekelilingmu, jika memang kamu memperjuangkan cintamu seutuhnya. Karena mencintai itu butuh perjuangan, dan perjuangan memang melelahkan. 

Sebetulnya akar masalahnya adalah...

Terlalu cepat untuk curhat di media sosial dan meminta pendapat kepada orang yang tidak tepat, salahnya kalian adalah sudah terlanjur dikenal sebagai orang yang sempurna, sementara kalian sendiri belum sepenuhnya memahami seluk beluk pernikahan itu. 

Taqy jika masih ada secuil rasa cinta di hati, temuilah Salma peluk dia, tundukkan egomu dan berbisiklah bahwa kamu mencintainya. 

Taqy, wanita hanya butuh perhatian dan kasih sayang. Apalagi sekelas Salma yang mungkin saja tidak lagi membutuhkan materi, dia hanya butuh kalimat cinta darimu yang diucapkan dengan sepenuh hati dari hati yang ikhlas.

Adinda Taqy dan Salma

Cinta memang butuh pengorbanan, ya waktu tenaga pikiran dan perasaan. Oleh karena itu korbankanlah salah satu darinya, kalian butuh bertatap muka bicara dari hati ke hati, saling memeluk dan mengasihi itu saja. 

Semoga badai segera berlalu

Apabila masih ada cinta di hati rawatlah, pupuklah pelihara cinta itu hingga ia akan bersemi dan kalian saling membutuhkan satu sama lainnya.

Amin.

No comments

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.