Kiat Mendampingi Anak Baru Masuk Sekolah

Yeaay musim liburan telah usai saatnya kembali lagi ke sekolah!



Tahun ini Kakak, anakku yang tertua memasuki sekolah menengah pertama. Lingkungan baru dan tentunya pelajaran baru. Dia harus ekstra menyesuaikan diri di lingkungan baru, teman baru dan juga guru-guru yang baru dikenalnya. Yang pertama yang harus disesuaikan adalah cara belajar di sekolah baru ini sangat berbeda dengan cara belajar di sekolah yang lama tentunya. 


Di sekolah yang baru, kebetulan kami memilihkan sekolah Islam swasta dengan kurikulum terpadu yakni kurikulum nasional dan islam. Memang tidak jauh berbeda dengan sekolah dasarnya dulu yang berlatar lingkungan madrasah, sama-sama intensif jurusan agama. Namun perbedaannya justru pada perlakuan guru terhadap murid. Di sekolah nya yang baru segala aktivitas dipantau dan di koreksi. Apabila tidak sesuai dengan aturan maka siap-siap akan menerima sangsi berupa pembinaan siswa dan juga orang tua. 

Perbedaaan ini juga terlihat pada kepedulian guru yang sangat tinggi terhadap siswa-siswi. Beberapa kali dia bercerita ustadz (guru) nya terlihat menegur siswa yang makan sambil berdiri, siswa  yang terlambat solat zuhur berjamaah atau tidak mengenakan hijab sesuai standar yang berlaku di sekolah. 

Aku sebagai orang tua tentu menyambut dengan gembira aturan itu, hal yang paling aku rasakan adalah saat memintanya solat tepat waktu, tidak harus memerlukan tenaga ekstra lagi atau marah-marah dan emosional. Begitu juga dalam hal menyiapkan kebutuhan pribadi mereka sebelum pergi sekolah. Setidaknya mereka sudah mulai bisa bertanggung jawab dengan apa yng menjadi kewajiban nya. 

Begitu juga dengan si Adik, yang saat ini memasuki sekolah dasar. Sama halnya dengan Kakak yang bersekolah di sekolah islam, Adik juga berjodoh dengan sokolah yang mengadopsi kurikulum islam terpadu hanya beda  yayasan saja. 

Perubahan pada Adik, aku rasakan adalah saat ini adik semakin kooperatif jika diajak belajar. Semakin mudah diarahkan dan mulai bertanggung jawab dengan apa yang menjadi kewajibannya. 

Beberapa kali ia terlihat berlari ke kamar mandi untuk berwudlu saat terdengar suara azan dengan kesadarannya sendiri. Bila saya dan suami tak melihatnya solat, terus lain waktu ditanya "adik sudah solat belum?" ia akan menjawab "Sudah"

Yah, ini adalah awal yang baik bagiku. Hal lain yang aku rasakan adalah saat berbicara anak-anak lebih mudah dan lebih terasa dekat.

Misalnya saat berdialog tentang suatu tema, anak-anak akan cepat meresepon tentu dengan gaya nya sendiri.

Adik lebih sering terliat memeluk, dan bercerita denganku. Ia selalu antusias jika diajak bercerita, apalagi sambil bermain dan bergelut. Hal mudah bagiku untuk selalu membuat nya tertawa bahagia. 

Nah, kali ini aku akan berbagi Kiat mendampingi Anak baru masuk sekolah 

1. Pastikan anak siap mental dan fisik

Sebelum memutuskan untuk menyekolahkan anak sebaiknya kita mengukur kesiapan fisik dan mental anak terlebih dahulu. Kesiapan fisik penting diperhatikan, anak sudah harus mengenal anggota tubuhnya sendiri dengan baik, apa yang boleh terlihat oleh orang lain apa yang tidak. Hal ini penting agar anak nyaman ketika bersama orang lain selain ayah dan ibu nya. Begitu juga dengan kesiapan mental anak. Umur sangat menentukan kesiapan mental anak untuk siap bersosialisasi dengan banyak orang yang tak dikenalnya. 

artikel terkait : Ketika masa PAUD Adek Berakhir

Kesiapan mental meliputi, emosi anak saat sedang bersama orang lain. pastikan anak akan bisa mengendalikan emosinya saat berhadapan dengan aturan yang ada di sekolah. Ketika anak sudah dalam keadaan siap mental untuk bersekolah maka tidak akan sulit ketika belajar bersama meskipun dengan lingkungan yang berbeda.

2. Minta bantuan anggota keluarga yang lain

Buatlah kesepakatan dengan anggota keluarga lain di rumah, baik itu Suami, saudara yang lebih tua, kakek, nenek, pembantu dan orang lain yang menetap di rumah. Komunikasi penting agar anak tidak merasa ada pelarian saat harus menaati sebuah aturan. Misalnya kesepakatan penggunaan gadget pada anak. Apabila kita berkomitmen untuk membatasi penggunaan gadget pada anak sebaiknya seluruh anggota keluarga yang lain mengetahui dan taat aturan yang ada. 

Aku dan suami menyepakati anak-anak boleh menggunakan gadget di hari libur. Namun sering juga mereka minta di hari biasa apabila sedang tidak banyak pr. Nah, aku punya cara menyiasatinya adalah dengan meminta Abang dan Kakak juga mendisiplinkan diri seperti aturan yang diterapkan kepada adik. 

3. Komunikasi dengan sekolah  

Beruntung di sekolah adek memfasilitasi komunikasi dengan para orang tua siswa. baik Berupa grup wa, sms maupun media sosial yang akan menjadi penghubung antara sekolah dan guru. Grup komunikasi kelas juga berfungsi apabila anak terlupa membawa pulang barang-barangnya sendiri. beruntung walikelas nya aktif dalam memberikan info barang-barang yang tertinggal. 

Selain itu bentuk komunikasi juga dilakukan dengan training dan workshop parenting yang diadakan oleh sekolah. Tujuannya adalah untuk menyamakan visi-misi dalam pola pengasuhan antara sekolah dan orang tua. Agar apa yang disampikan kepada anak dapat optimal. 


4. Mengoptimalkan waktu bermain saat di rumah


Anak yang baru masuk sekolah dasar pada dasarnya masih tergolong anak-anak dengan kecenderungan bermain lebih banyak, oleh karena itu tetap ciptakan suasana bermain yang menyenangkan saat mereka berada di rumah. Menciptakan permainan bukan berarti harus dengan biaya yang mahal. Bisa juga dengan mengajak mereka bermain dengan permainan yang kita buat sendiri. Misalnya main tebak-tebakan nama-nama hewan, negara, tokoh nasional, sejarah keagamaan dll. 

Saat bermain dengan anak, tentunya akan tercipta bonding yang kuat antara orang tua dan anak hal ini diharapkan dapat menjadi sarana mendekatkan diri anak dan orang tua sehingga anak tidak kehilangan waktu bermain. 



No comments

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.