Akhirnya kita berhasil melaluinya, Nak!

Akhirnya kita berhasil melaluinya, Nak!



Sebenarnya menjadi ibu yang menggenapkan azzamnya untuk menyusui secara sempurna memang impianku sejak lama, bukan karena aku menganut faham ASI atau menolak Non-ASI bukaaan. Bukan pula karena fobia dengan susu sapi dan sejenisnya tidaaak!, jadi jangan di bully dulu ya.. Ini sekedar sharing pengalaman saja bagaimana mendidik anak dengan perjuangan ASI penuh.


Nikmatnya... tidak lebih dari seperti seorang muslim yang sedang menjalan ibadah puasa seharian penuh lalu pada waktu berbuka di sodori sirop seger dingin, tak terkiraaa. Iya tak terkira legaanya.
Dan ini cerita Aku dan anakku Abang Fajar melalui perjuangan enam bulan pertama hingga usianya menginjak 24 bulan alias 2 tahun dengan ASI

Perjuangan yang penuh dengan emosi, menguras air mata hingga singgung-singgungan. ANh, semua itu akan aku ceritakan di sini. Tidak lain dan tak bukan sebagai pengingat saja bahwa diriku dan anakku telah melalui semua dengan penuh perjuangan.

Azzam dalam dada

Mengawali menjadi Ibu dan anak pejuang ASI harus diawali dengan Azzam di dalam dada, istilahnya harus dengan tekad dan keinginan yang kuat. Bahkan dalam beberapa kondisi kita harus berhadapan dengan orang-orang yang non ASI lalu membanding-bandingkan dengan anak ASI so.. azzam itulah menjadi kekuatan penuh seorang ibu dan anak pejuang ASI. Boleh dikatakan ibu dan anak ASI itu harus berhadapan dengan arus yang amat deras iyaa... harus menjadi penentang arah bener, dan di cap pula ibu kolot tidak melek zaman okeh... namun semua itu bukan menjadi aral yang menghadang semangat mu menjadi luntur lho...nikmati saja perjalanannya denga terus berdoa dan menguatkan azzam bahwa perjalanan itu pasti akan berujung indah.

Lalui semua rintangan dengan senyummu

Diawali dengan kelahiran normal, ditolong sama ibu bidan, di rumah. Itu adalah pertolongan pertama yang diberikan oleh Allah SWT. Memang tidak mudah melaluinya, namun doa adalah wasiat mujarab apabila ingin melaluinya, tanpa jawaban dari Allah belum tentu semua yang telah aku dan anakku melalui tahapan pertama dengan baik. Alhamdulillah kami menjalaninya dengan lancar, ibu bidan yang baik hati membimbing si New born kami mencari puting dengan insting dan mulutnya sendiri, tak lebih dari 5 menit saja Ia berada di atas perutku lalu ia menemukan sendiri puting susu tempatnya menggantungkan hidup selanjutnya. Satu jam pertama kami berhasil melalui rintangan dengan senyum dan derai air mata bahagia. Betapa nikmatnya saat mulut mungilnya yang hangat menyentuhku dan mencari penghidupan dari sana.

Perjuangan pertama

satu jam setelah si Abang Fajar menemukan tempat ternyamannya dari diriku selanjutnya ujian mulai datang, Diawali dengan puting yang membengkak, ada penyumbatan di salah satu aliran susu sehingga tidak bisa keluar, Jangan ditanya tentang sakitnya, Ampun sangat-sangat sakit hingga ke ubun-ubun, anehnya kondisi seperti itu terus menerus hingga satu bulan lamanya.

Saat menyusui aku harus menggigit jujung baju menahan sakit yang teramat sangat, seperti mau putus itu puting. Saat di perhatikan kondisi puting sudah seperti cacar air yang membengkak berisi air dan siap-siap mau pecah. Hingga keluarnya darah akibat pembuluh darah yang pecah diisap oleh bayiku

Saban hari ketika jadwal menyusui tiba, rasanya seperti mau ketemu sama guru yang amat galak aku ketakutan membayangkan sakitnya. Luka di ujung puting itu silih berganti, pecah, berdarah, bernanah, kering lalu pecah lagi, berdarah lagi bernanah lagi, hingga tidak terhitung lagi berapa banyak tahapanitu teralui. Namun besarnya azzam menjadi dorongan yang tiba-tiba mengajakku untuk segera memberinya ASI. Seberapa lama dia menyusi maka selama itu pula sakit itu mendera. Bisikan istighfar dan jejeritan kecil hingga linangan air mata menemani kami hingga sebulan lamanya.

Yups akhirnya derita dan sakit itu berakhir setelah satu bulan lamanya. Hingga luka di puting mengering kulit mati lepas dengan sendirinya, perlahan-lahan air susu mengalir lancar hingga si Abang bisa tertidur nyenyak kekenyangan.

Perjuangan kedua

Menginjak bulan ketiga, rasa cemas dan khawati kembali menghantuiku. Tak lama lagi masa cutiku habis dan itu artinya aku harus masuk kerja dan meninggalkan bayiku. Aku menangis dalam diam, sanggupkah kami melewati semua ini? Haru sberpisah dalam waktu tertentu, bagaimana kalau ia lapar, sementara aku belum pulang? Pikiran-pikiran negatif kembali menghantui dan hampir membuatku putus asa. Namun dalam lirihan doa selalu aku bisikkan agar kami tiba diujung perjuanga ini.

Hari pertama masuk kerja tiba...

Dari dua hari sebelumnya aku telah mempersiapkan diri dengan bekal ASI yang menurut perkiraanku cukup untuk kebutuhan si Abang Fajar pada saat ditinggal kerja. Allah Maha Kaya, aku diuntungkan dengan lokasi tempat kerja yang tidak jauh dari rumah. sehingga ketika istirahat aku bisa uzin pulang untuk menyusi atau sekedar memerah ASI.

Pada saat kondisi ASI banyak dan bayi masih kenyang maka saat itulah aku memerah ASI lalu menyimpannya dalam botol-botol susu kecil. Satu kali memerah cukup untuk sekali minum, Apabila memerah lagi ganti pula botol susunya agar susu yang sudah di perah sebelumnya tidak terkontaminasi dengan udara terlalu sering yang akan mengakibatkan rusaknya nutrisi dalam ASI.

Memerah ASI ada tipsnya agar mendapatkan ASI yang banyak. Pertama lakukan ketika bayi kenyang sementara ASI masih banyak. kedua bisa juga memerah ketika bayi tertidur sementara ASI terasa penuh, yang ketiga bisa juga memerah dilakukan ketika bayi masih menghisap di satu payudara lalu kita memerahnya ASI pada payudara lainnya Tips ini ternyata ampuh untuk memenuhi stok ASI yang digunakan ketika si Ibu berangkat kerja.

Perjuangan ketiga

Menginjak bulan keenam, puncak telah di depan mata, artinya perjuangan ASI penuh selama 6 bulan hampir selesai. Namun tetp harus bersabar hingga usia bayi pas di 6 bulan penuh. godaan mulai berdatangan, untuk bayi yang aktif biasanya 6 bulan bayi telah mulai memasukkan benda-benda di mulutnya, apabila tidak diawasi bisa saja kita tergoda memberinya makanan lain selain ASI. Namun bersabarlah hingga usia bayi genap 6 bulan.

Terucap syukur yang tak terkira kepada Ilahi akhirnya kami bisa melalui perjuangan ASI ekslusif dengan sempurna. Tentu dukungan keluarga terdekat adalah salah satu barometer keberhasilan perjuangan ini. Dan terimakasih yang tak terhingga untuk suami, nenek dan mba pengasuh yang telah ikut serta berjuang mendukung aku dan Abang Fajar melalui perjuangan ASI ekslusif ini.

Alhamdulillah perjuangan sudah hampir di ujung. Namun perjuangan tahap kedua baru saja dimulai. Perjuangan tetap memberikan ASI hingga usia dua tahun adalah tantangan berikutnya. Aku berazzam terus untuk bisa sampai di tahap berikutnya.

Perjalanan kami sedikit penuh intrik terutama ketika bayi terlihat lebih kecil dibanding bayi yang diberi tambahan susu Formula. Ini pula yang menjadi bisikan-bisikan penggoyah iman. Siapa coba yang tidak tergugah hatinya melihat bayi lucu, gemuk, lincah pipinya tembem dibanding dengan anak aku yang tidak gemuk dan tembem. Sekilas memang bisa saja hati goyah ingin mencoba memberinya susu formula agar seperti bayi yang gemuk, tembem dan lucu. Atau seletingan dan guyonan dari para tentangga tentang

"anak si itu kok 'ndut ya? pasti susunya mahal"

"Pantes saja gendut, dia bisa menghabiskan 5 botol setiap malam"

"Lha iya, dong saya bisa mengeluarkan anggaran susu satu bulan hingga 1 juta !"

Pernyataan-pernyataan seperti ini kadang seperti jarum yang menusuk nusuk bhahaha.. Namun hati kecil mengatakan "biarin" yang  penting anakku sehat'

kenikmatannya adalah ketika beberapa loncatan perilaku yang tak terduga tiba-tiba menjadi lampu yang terang benderang di atas kepala misalnya

Tanpa angin dan hujan tetiba si anak sudah bisa ini dan itu tanpa diduga, dan loncatan itu kian berbinar-binar hingga ia tumbuh membesar. Tetiba dia bisa mengenal huruf tanpa perlu diajarkan, tetiba ia bisa membaca di usia yang sangat dini 3,5 tahun, tetiba dia sudah melahap habis koran harian di usia nya yang keempat tahun bisa membaca peta atlas dunia, menyebutkan nama negara berikut lokasi, warna bendera, bentuk negara dan sebagainya, dan tetiba saya berucap syukur dia juga sudah bisa mengaji tanpa melewati tahapan yang sulit.

Dan itu adalah anugerah yang tak teridah dari seorang bayi kecil dengan perjuangan ASI penuh. Alhamdulillah

3 comments

  1. Ya ampun mbakk...menyusui dengan asi bisa sampai sedrama ini ya. Tapi jujur aku terharu, ngebayanginnya gitu aja haru mbak :)

    ReplyDelete
  2. Duh yurma. Jadi ingat waktu ngeAsi Nawra. Itu kan masih kerja. Luar biasa perjuangannya

    ReplyDelete
  3. menyusui emang bener-bener butuh perjuangan, akupun merasakannya... merasakan puting digigit sampai bernanah... dan setelah anak menyapih sendiri, malah berasa kehilangan dan merindukan masa-masa menyusui

    ReplyDelete

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.