Wisata Industri bersama PT.Semen Padang

Jumat 18-19 Maret 2016 pertama kalinya aku ikut serta dalam kegiatan pertemuan Blogger. Momen yang difasilitasi oleh PT.Semen Padang ini merupakan hasil dari kerjasama PT.Semen Indonesia dengan Wegi yang mempunyai konsep Wisata Edukasi dan Industri. Cukup padat kegiatan yang direncanakan selama 2 hari tersebut. Setidaknya hal itu yang tertulis di dalam jadwal acara yang telah dirilis oleh panitia. 



Dampak yang akan dihasilkan dari konsep Wisata Edukasi dan Industri ini antara lain sebagai regulasi informasi program green Industri kepada masyarakat luas.

Konsep Edukasi tentang industri hijau yang dipadukan dengan wisata adalah sebuah konsep yang cukup apik. Apalagi dengan melibatkan insan blogger, penggiat sosial media, hingga jurnalis menjadi posisi tawar tersendiri bagi PT.Semen Indonesia. Setidaknya dengan mengajak serta insan jurnalis warga untuk berwisata adalah konsep yang baik untuk memasarkan industri wisata di daerah penyelenggara. 

PT. Semen Indonesia terlihat sungguh-sungguh dalam menerapkan konsep green industry hal ini terlihat dari area lokasi yang hijau dan sejuk. Area tambang yang sudah tidak aktif di desain sehingga menjadi kawasan hijau nan asri. 

View di depan mess Indarung 

Halaman mess 


Saat ini PT. Semen Padang memiliki 6 pabrik pengolahan yang dinamakan Indarung I, Indarung II hingga Indarung VI yang berlokasi di satu kawasan industri. 

Menuju Kota Wisata Bukittinggi

Kegiatan Wisata Heritage bersama PT.Semen Padang  dimulai dari perkenalan peserta di dalam bis menuju Kota wisata Bukittinggi. Suasana mulai mencair ketika satu persatu peserta membayol apalagi dipandu sama Uni Kaka yang curcol. 

Di perjalanan bis berhenti di Rumah Makan Ajo Kiambang, wangi Soto Padang segera memanjakan lidah, nikmat nya taraso di lidah. Soto khas Minang dengan dendeng goreng yang lezat menjadi pemasok energi di awal perjalanan. Peserta begitu menikmati santapan pagi ditemani es kelapa muda (Pagi-pagi pesennya es kelapa muda, grhh..)


Sarapan Soto Padang 


Es Kelapa Muda menemani sarapan pagi 

Rombongan wisata Heritage PT Semen Padang selanjutnya menuju Bukittinggi. Memasuki Kabupaten Padang Panjang hawa dingin kian terasa apalagi suhu di dalam bus AC nya full siap siap jaket tebal deh. Kabupaten Padang Panjang menawarkan berbagai kekhasannya antaralain kerajinan ukiran, kaligrafi, guci yang berhias manik manik hingga tenun yang dikenal dengan Tenun Sikek. Di daerah ini ada sebuah rumah makan yang cukup familiar yang dikenal Sate Pak Syukur, sempat Pak Presiden Jokowi menyambangi makanan disini. 

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan akhirnya rombongan memasuki Kota Bukittinggi. Rombongan disambut dengan kemacetan yang menurut Uni Kaka lantaran hari Pasar. Sebenarnya di hari-hari libur Bukittinggi sangat ramai dikunjungi para wisatawan baik yang berasal dari daerah Sumatera Barat sendiri maupun wisatawan yang berasal dari luar Sumatera Barat. 

Wisata Jam Gadang


View Jam Gadang dari Halaman Depan Istana Bung Hatta


Jam Gadang terletak di Jantung kota Bukittinggi dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazid dan Sutan Gigi Ameh. Merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Kontroleur (sekretaris kota) Rook Maker. Ukuran bangunan berdiameter 80 cm serta tinggi 26 meter dengan biaya 3000 golden. Keunikan jam Gadang ini antaralain angka 4 yang seharusnya ditulis IV namun di cantumkan IIII. Penulisan ini menimbulkan banyak spekulasi tentang sejarah jam Gadang. 

Karena hari sudah menunjukkan pukul 12.00 Uni Kaka kemudian menginstruksikan kepada peserta laki-laki agar mempersiapkan diri menuju mesjid terdekat untuk menunaikan solat Jumat. Sementara peserta laki-laki solat Jumat, Nah peserta perempuan langsung menyerbu pasar yang terletak di sekitar lokasi Jam Gadang. Waktunya belanja..


Tugu tentang sejarah Jam Gadang

Masih di seputaran Kota Wisata Bukittinggi terdapat sebuah Monumen bersejarah yaitu monumen Bung Hatta namun sayang nya pengunjung tidak bisa memasuki monumen. Kondisi monumen sedikit kotor sampah dedaunan menutupi permukaan taman di halaman monumen. 


Monumen Bung Hatta

Kota Bukittinggi termasuk ramai dikunjungi para wisatawan baik yang berasal dari Sumatera Barat maupun dari luar daerah. Apalagi kalau musim liburan. Pengalaman ke Bukittinggi pada saat liburan sebenarnya sudah pernah kuceritakan di post sebelumnya. 




Saat hari - hari biasa pun masih ramai dikunjungi warga. Desain kota Bukittinggi memang memadukan konsep wisata sejarah, wisata budaya dan wisata belanja. Sangat mendukung untuk pembangunan kota wisata. 

Lubang Jepang 


Setelah Puas menikmati keindahan Jam Gadang serta belanja-belanja selanjutnya rombongan Wisata Heritage PT.Semen Padang bersama Komunitas Wegi melanjutkan perjalanan menuju Lubang Jepang. Pintu masuk Lubang Jepang sebenarnya ada di sisi kiri dari kawasan wisata Bukittinggi. Terdapat 132 anak tangga menuju ke ruang bawah tanah. Di dalam lubang terdapat ruang ruang yang memiliki fungsi masing masing antara lain ruang amunisi sebagai tempat penyimpanan amunisi, senjata. Ruang sidang sebagai tempat tentara jepang melakukan rapat rahasia, ruang makan sebagai tempat tentara jepang makan, ruang penyiksaan romusha, ruang penjara. 

Di salah satu lorong terdapat pintu keluar yang juga berfungsi sebagai tempat tentara Jepang melakukan pengintaian. Masyarakat yang kebetulan melewati lubang Jepang akan ditarik paksa ke dalam lubang dan di siksa. Hal itu dimaksudkan agar tak satu pun masyarakat pribumi yang mengetahui aktivitas tentara Jepang kala itu. Aktivitas tentara Jepang hanya berlangsung 2.5 tahun seiring dengan berakhirnya pendudukan Jepang di tanah air. 


Pintu masuk ke Lubang Jepang 

Di dalam lubang Jepang 

Dapur Umum yang merupakan tempat pembantaian romusha 

Ngarai Sianok 

Ngarai Sianok merupakan lembah yang dikelilingi oleh bukit - bukit kapur menjulang  view yang ditawarkan antara lain pemandangan bukit kapur, Great Wall yang merupakan miniatur tembok cina. Ada jembatan gantung sebagai penghubung menuju Great Wall.  Sayangnya rombongan wisata Heritage PT Semen Padang tidak bisa menuju lokasi karena waktu yang singkat. 

Istana Baso Pagaruyung

Perjalanan selanjutnya menuju Istana Baso Pagaruyung. Rombongan wisata Heritage PT Semen Padang bersama komunitas Wegi selanjutnya menuju Istana Baso pagarruyung yang berlokasi di Kabupaten Batusangkar. Jarak perjalanan sekitar 1,5 jam perjalanan. Di post terdahulu saya pernah menulis tentang Istana Baso Pagarruyung. 


Memasuki Kabupaten Tanah Datar suasana pedesaan mulai terasa persawahan yang dikelilingi oleh bukit - bukit kapur menjadi daya tarik tersendiri. Jalan yang berkelok-kelok sempat membuat rombongan spot jantung, untung saja sopir bus sudah menguasai medan.  Di beberapa ruas jalan bahkan banyak terdapat jurang yang curam. 

Sesampainya di Istana Baso Pagarruyung sekitar pukul 5.30 peserta diberikan waktu sekitar 1 jam untuk menikmati keindahan istana. Terlihat pengunjung Istana Baso Pagarruyung memadati halaman istana. 


Pelataran Istana Baso Pagarruyung 

Istana Pagarruyung memiliki tiga lantai merupakan tempat tinggal Rajo Pagarruyung. Lantai 1 merupakan tempat pengunjung yang ingin menyewa pakaian adat minang. Lantai 2 merupakan tempat raja menjamu tamu-tamu kerajaan serta sering digunakan sebagai tempat acara adat. Sedangkan lantai 3  merupakan tempat anak perempuan yang belum menikah. 


Suasana pengunjung view dari lantai 2


Jendela Istana yang menghadap halaman depan, 


Pengunjung bisa menyewa pakaian adat yang disediakan oleh pengelola Istana Baso Pagarruyung dengan biaya yang  cukup terjangkau yaitu Rp 35000, -  Di dalam Istana pengunjung dibebaskan berfoto dengan koleksi benda-benda budaya yang tersedia. Rombongan peserta Wisata Heritage terlihat cukup antusias memanfaatkan momen tersebut dengan berfoto bersama maupun sendiri. 

Dikatakan pengelola Istana pengunjung yang datang ke Istana banyak juga berasal dari luar daerah. 

Danau Singkarak

Setelah puas menikmati wisata budaya Istana Baso Pagarruyung rombonganpun meninggalkan lokasi seiring dengan tenggelamnya matahari sore itu. Destinasi selanjutnya adalah Danau Singkarak. Di sana rombongan menikmati makan malam di tepi danau. Namun sayang peserta tidak dapat menikmati keindahan danau lantaran malam hari. 

Pukul 20.30 Akhirnya peserta kembali ke mess untuk beristirahat. Bersiap mengikuti kegiatan esok pagi. 





12 comments

  1. wah paket lengkap wisatanya.. puas dong mba

    ReplyDelete
  2. Mantap. Sambil menyelam minum air ini namanya ya. Dapat ilmu dan bisa wisata juga

    ReplyDelete
  3. Ulasannya mantap... berasa diajak kembali ke sana.
    Aku yg di danau Singkarak sudah tidak semangat karena kelelahan dan lelah makan makanan bersantan. Hihihi (Padahal cuma sekali di Los Lambuang). Tidak suka sayur bersantan kental yang dipadu dengan cabe.... atit peyut lah jadinya. hihihi...
    (Jadi catatan khusus buatku kalau berwisata ke sini lagi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kelelahan juga sih mba..soalnya dari tgl 18 sampe senin itu kan masih dijalan aja..wajar deh, badannya mba susi sudah memelas minta istirahat..

      Delete
    2. Mungkin kelelahan juga sih mba..soalnya dari tgl 18 sampe senin itu kan masih dijalan aja..wajar deh, badannya mba susi sudah memelas minta istirahat..

      Delete

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.