KARTINI tak harus Memakai Konde



Sepanjang bulan April ini kita diingatkan dengan sosok perempuan bersahaja yang dijadikan barometer kebangkitan kaum wanita di tanah pertiwi yaitu perjuangan Ibu Kartini. Perjuangan kartini dalam mengembalikan hak-hak kaum wanita pada zaman penjajahan Belanda agaknya menjadi alarm bagi kaum wanita untuk selalu berbenah diri.


Yah, kartini menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan dominasi kaum lelaki, Kartini akan menjadi simbol kesetaraan hak wanita.

Dalam berbagai aktivitas seorang wanita, memang tak bisa lepas dari kodratnya sebagai seorang ibu. Karena secara lahiriah memang di tugaskan untuk mengandung, melahirkan dan menyusui anak-anaknya. Maka wanita memiliki segudang talenta untuk tetap survive menghadapi apapun yang dihadapinya.

Hari ini kembali diingatkan dengan sosok perjuangan Ibu Kartini, namun bedanya saat ini Kartini yang ada saat ini adalah kartini yang banyak berjuang di tengah-tengah arus digital. Kartini yang tak hanya memperjuangkan hak dirinya sendiri tapi juga memberdayakan orang-orang di sekelilingnya.

Perjuangan Kartini bukan hanya perjuangan untuk setara dengan kaum lelaki, tapi adalah perjuangan hidup yang memang benar-benar untuk bertahan hidup. 

Di jalanan banyak sekali wanita yang harus bertahan hidup, berjuang tak kenal lelah siang dan malam mengais rezeki dengan cara-cara nya masing-masing. 

Tak sedikit yang berjuang di dalam gedung-gedung pencakar langit mulai dari jabatan yang biasa saja sampai jabatan orang nomor satu di sebuah oraganisasi. 

Kartini-kartini muda juga tak mau kalah, mereka merambah ke berbagai lini. Menjadi salah satu penyumbang pola pikir bagaimana memberdayakan kaumnya.

Ini adalah bukti bahwa Kartini tak harus memakai Konde. Kartini adalah sebuah perjuangan, sebuah perlawanan dengan penindasan, serta bentuk sumbangsih pemikiran atas kemajuan zaman.

Menjadi ibu juga bisa berjuang seheroik pemikiran Kartini. Bukan mudah mendidik anak di zaman now yang penuh godaan dan tantangan. Tidak sedikit orang tua yang gagal mendidik anak-anaknya, meskipun terlihat baik-baik saja di rumah. 

Ada anak yang diberikan berbagai macam guru ngaji demi menjaga mereka agar terhindar dari pengaruh negatif, namun ternyata ketika mereka besar tak terkontrol dan mencoreng muka orang tua dengan perilaku yang tidak baik.

Banyak pula orang tua khususnya ibu merasa apa yang mereka perjuangakan siang dan malam dalam menjaga dan mendidik anak-anak menjadi sia-sia manakala anak-anak mereka terjerumus ke pergaulan negatif. 

yah, kita memang seorang ibu yang tak pernah berhenti belajar menjadi orang tua yang baik. Dan tak boleh berhenti karena tantangan zaman yang sangat keras menggerus nilai-nilai pendidikan dalam keluarga mengancam kepribadian anak-anak sehingga jatuh dan terpuruk.

Hasilnya akan bisa ditebak, anak-anak korban degenerasi akhlak kehilangan harga diri dan percaya dirinya yang menyebabkan masa depan mereka suram.

oh miris sekali.

Kalau anak-anak bangsa sudah tak memiliki optimisme dan percaya diri sendiri mudah sekali negara ini hancur dan dijajah kembali oleh bangsa lain. Dan tentulah masa kelam akan kembali menghantui kita semua.

Untuk itu sebagai ibu, terus perbanyak ilmu-ilmu pendidikan keluarga, parenting dan keahlian yang dapat dimanfaatkan dalam mendidik anak-anak kita. Menjadi Kartini dan selalu berbenah untuk masa depan bangsa. 


2 comments

  1. Yang penting tetap menggunakan hujab, karena itu kewajiban untuk seorang wanita muslimah ya, Teh..

    ReplyDelete

Terimakasih ya, telah berkunjung di blog saya. Bila ada waktu luang saya sempatkan berkunjung balik. Semoga silaturrahim kita terjalin indah.